Selayang Pandang

Blog ini berisi tulisan-tulisan perjuangan seorang anak manusia demi menggapai impiannya. Berbagai hikmah yang Ia temukan terangkum dalam barisan huruf-huruf menjadi sebuah kata demi kata dalam kalimat-kalimat yang berkembang menjadi paragraf-paragraf panjang...

Selasa, 10 Januari 2012

Pagi ini dingin seolah memeluk tubuh
Menjalar ke seluruh  persendian
Munusuk sampai ke tulang

Jika harapan untuk sembuh mungkin terlalu mahal untukku, maka harapanku hanya ingin diberi kekuatan untuk bisa bertahan sebentar lagi... sampai semua hutangku lunas. Hutangku pada Ibuku, pada orang2 yang mencurahkan harapannya padaku. Tak lebih, hanya kuminta itu.

Minggu, 08 Januari 2012

Wanita-wanita itu

9 May 2006 at 9:19 am | Posted in Artikel Islami

Seringkali kita mendengar nama Ummu Yasir, Ummu Sulaim, Ummu Amarah, ataupun Khansa’ ridhwanallah ‘alaihinna. Merekalah wanita-wanita yang merasakan sentuhan langsung tarbiyah nabawiyah, mereka adalah bagian dari generasi terbaik dalam kurun terbaik yang pernah ada dalam sejarah peradaban manusia. Tapi Islam dan warisan kenabian Muhammad saw, tidak berakhir pada kurun tersebut, ia terus bergerak bersama putaran roda zaman. Maka sejarah Islampun bertaburan nama-nama para pahlawan wanita dari berbagai zaman. Inilah beberapa diantaranya :
- Jullanar, hidup pada abad ke-7 H / 13 M, sepupu dan istri dari salah seorang panglima terbesar dalam sejarah Islam, Mudzaffar Qutz. Kedudukan dan nasabnya yang mulia tidak menghalanginya untuk ikut berlumur debu dalam jihad fisabilillah. Pada perang ‘Ain Jalut yang merupakan turning point kekuatan muslimin dalam menghadapi ekspansi Mongol, ia turut bertempur di medan perang hingga mendapatkan syahid.
Dikisahkan bahwa pada saat mendekati kematiannya, sang suami datang dan berseru padanya “Wahai kasihku !”, ia pun membalas dengan kata-kata yang mencerminkan kedalaman imannya, “Jangan kau katakan itu, tapi katakanlah duhai Islam”, dan pada hari itu , 25 Ramadhan 658 H / 6 Desember 1260 M, terangkatlah ruhnya ke surga, bergabung dengan kafilah para syuhada.
- Syaikhah Rahmah Al-Yunusiah, ia adalah permata Islam dari generasi muta’akhirin. Berbahagialah para muslimah di Indonesia karena memiliki hubungan kebangsaan dengan wanita asal Minangkabau ini. Pada tanggal 1 November 1923 M mendirikan Madrasah lil Banat (Perguruan Diniyah Putri) di Padangpanjang. Murid-murid sekolahnya yang berasal dari seantero Asia Tenggara tidak hanya diajari ilmu-ilmu keagamaan, tapi juga dididik untuk menghadapi penjajahan Belanda. Sikap perlawanan itu juga ditunjukannya dengan menolak bantuan dari pemerintah kolonial Belanda.
Sekolah putri yang beliau dirikan diadopsi oleh Al-Azhar sebagai model untuk sekolah Al-Azhar untuk putri (sekolahnya Noura dalam novel Ayat-Ayat Cinta, he he). Sebagai penghargaan, Al-Azhar memberikan gelar Syaikhah (Syaikh wanita) kepada beliau, tidak ada wanita lain hingga kini yang pernah mendapatkan gelar tersebut dari Al-Azhar.
- Prof. Dr. Aisyah Abdurrahman Bintu Syathi, jika anda adalah penggemar karya-karya Quraish Shihab, nama Bintu Syathi tentu tidak asing lagi. Buku-bukunya kini menjadi rujukan bagi para mahasiswa tafsir dan sastra Arab. Karya tafsirnya, Tafsir Bintu Syathi, mungkin adalah satu-satunya kitab tafsir terkemuka yang pernah ditulis oleh seorang wanita. Pada tahun 1960-an beliau sering memberi kuliah dihadapan para sarjana di Roma, Aljazair, Baghdad, Khartoum, New Delhi, Rabat, dll. Tidak hanya menulis tentang tafsir, beliau juga melakukan studi tentang penyair-penyair kenamaan dari Arab. Beliau juga menulis biografi ibunda Rasulullah, para istri, para putri dan keturunan perempuan dari baginda Rasul. Tulisannya juga mencakup isu-isu kontemporer, termasuk perjuangan melawan imperialisme dan zionisme.
Lahir di Dumyat, delta Sungai Nil dan menyelesaikan pendidikan tinggi di Universitas Fuad I, Kairo. Beliau pernah menjabat sebagai guru besar ilmu-ilmu Al-Qur’an di Universitas Qarawiyin dan guru besar sastra Arab di Universitas Kairo. Warisan terbesarnya selain kitab-kitab karyanya adalah metode yang digunakannya dalam menafsirkan Al-Qur’an (yang ia akui diperoleh dari guru besarnya di Universitas Fuad I yang kemudian menjadi suaminya, Amin al Khuuli).
- Lois Lamya Al-Faruqi, istri dari salah seorang cendekiawan muslim terbesar abad lalu, Ismail Raji’ Al-Faruqi. Dilahirkan pada tanggal 25 Juli 1926, memperoleh gelar B.A dalam bidang musik dari University of Montana (1948) dan M.A dalam bidang yang sama dari Indiana University (1949) dan selanjutnya menjadi staf pengajar di Indiana University. Beliau adalah seorang ahli dalam bidang seni dan budaya Islam, juga menulis beberapa artikel untuk menjelaskan posisi wanita dalam Islam dan mengkoreksi kekeliruan gerakan feminisme yang melanda dunia Islam. Bersama suaminya, beliau juga aktif mengkampanyekan kemerdekaan Palestina. Menjadi co-author bagi suaminya dalam penyusunan The Cultural Atlas of Islam, salah satu karya monumental dalam khazanah budaya Islam.
Buku tersebut benar-benar menjadi warisan terakhir dari mereka, sebab beberapa bulan setelah penerbitan buku tersebut, tepatnya 27 Mei 1986, sekawanan perampok (yang ditengarai sebagai agen-agen Mossad) menyusup masuk ke apartemen mereka dan membunuh mereka berdua. Namanya kini diabadikan oleh Society of Ethnomusicology, Indiana University sebagai nama penghargaan bagi mereka yang berkontribusi dalam bidang musikologi di dunia Islam.
Keempat nama di atas hanyalah sedikit dari mereka yang tidak hidup bersama Rasulullah, tapi insya Allah akan dikumpulkan bersama Rasulullah saw karena iman, ilmu, dan jihad yang mereka lakukan. Selama pelita Islam masih menyala, selalu akan lahir wanita-wanita luar biasa yang turut tampil mengusung panji-panji Islam dan menegakkan bangunan madrasah nabawiyah.
“ Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain……” (Ali Imran : 195)
Kaum wanita adalah saudara kaum laki-laki dalam keimanan (Hadits)

Keteguhan seorang Istri

9 May 2006 at 9:27 am | Posted in Artikel Islami |
Barangsiapa yg mengharapkan mati syahid dgn sepenuh hati, maka ALLAH akan memberikan
mati syahid kepadanya meskipun ia mati ditempat tidur (hadis).
Dunia hanya satu terminal dari seluruh fase kehidupan. Hanya Allah yang tahu rentang
usia seorang manusia.

Saya, Khadijah sebut saja demikian, menikah dengan Muhammad, 3 Oktober 1993.
Muhammad adalah kakak kelas saya di IPB. Selama menikah, suami sering mengingatkan
saya tentang kematian, tentang syurga, tentang syahid, dan sebagainya. Setiap kami
bicara tentang sesuatu, ujung2nya bicara tentang kematian dan indahnya syurga itu
bagaimana. Kalau kita bicara soal nikmatnya materi, suami mengaitkannya dengan
kenikmatan syurga yang lebih indah. Bahkan, berulang-ulang dia mengatakan, nanti
kita ketemu lagi di syurga. Itu mempunyai makna yg dalam bagi saya.
Hari itu, 16 Januari 1996, kami ke rumah orang tua di Jakarta. Seolah suami
mengembalikan saya kepada orang tua. Malam itu juga, suami saya mengatakan harus
kembali ke Bogor, karena harus mengisi diklat besok paginya. Menurutnya, kalau
berangkat pagi dari Jakarta khawatir terlambat.
Mendekati jam 12 malam, saya bangun dari tidur, perut saya sakit, keringat dingin
mengucur, rasanya ingin muntah. Saya bilang pada ibu saya, untuk diobati. Saya kira
maag saya kambuh. Saya sempat berpikir suami saya di sana sudah istirahat, sudah
senang, sudah sampai karena berangkat sejak maghrib. Saya juga berharap kalau ada
suami saya mungkin saya dipijitin atau bagimana. Tapi rupanya pada saat itulah
terjadi peristiwa tragis menimpa suami saya.
Jam tiga malam, saya terbangun. Kemudian saya shalat. Entah kenapa, meskipun badan
kurang sehat, saya ingin ngaji. Lama sekali saya menghabiskan lembar demi lembar
mushaf kecil saya. Waktu shubuh rasanya lama sekali. Badan saya sangat lelah dan
akhirnya tertidur hingga subuh. Pagi harinya, saya mendapat berita dari seorang
akhwat di Jakarta, bahwa suami saya dalam kondisi kritis. Karena angkutan yang
ditumpanginya hancur ditabrak truk tronton di jalan raya Parung. Sebenarnya waktu
itu suami saya sudah meninggal. Mungkin sengaja beritanya dibuat begitu biar saya
tidak kaget. Namun tak lama kemudian, ada seorang teman di Jakarta yang
memberitahukan bahwa beliau sudah meninggal. Inna lillahi wainna ilaihi rajiun.
Entah kenapa, mendengar berita itu hati saya tetap tegar. Saya sendiri tidak
menyangka bisa setegar itu. Saya berusaha membangun keyakinan bahwa suami saya mati
syahid. Saya bisa menasihati keluarga dan langsung ke Bogor. Disana, suami saya
sudah dikafani. Sambil menangis saya menasihati ibu, bahwa dia bukan milik kita.
Kita semua bukan milik kita sendiri tapi milik ALLAH.
Alhamdulillah ALLAH memberi kekuatan. Kepada orang2 yang bertakziah waktu itu, saya
mengatakan : “Doakan dia supaya syahid.. doakan dia supaya syahid”. Sekali lagi
ketabahan saya waktu itu semata datang dari ALLAH, kalau tidak, mungkin saya sudah
pingsan.
Seperti tuntunan Islam, segala hutang orang yang meninggal harus ditunaikan. Meski
tidak ada catatannya, tapi tanpa disadari, saya ingat sekali hutang2 suami. Saya
memang sering bercanda sama suami, “Mas kalau ada hutang, catat. Nanti kalau Mas
meninggal duluan saya tahu saya harus bayar berapa.” Canda itu memang se! ring
muncul ketika kami bicara masalah kematian. Sampai saya pernah bilang pada suami
saya, “kalau mas meninggal duluan, saya yang mandiin. Kalau mas meninggal duluan,
saya kembali lagi ke ummi, jadi anaknya lagi.” Semua itu akhirnya menjadi kenyataan.
Beberapa hari setelah musibah itu, saya harus kembali ke rumah kontrakan di Bogor
untuk mengurus surat2. Saat saya buka pintunya, tercium bau harum sekali. Hampir
seluruh ruangan rumah itu wangi. Saya sempat periksa barangkali sumber wangi itu ada
pada buah-buahan, atau yang lainnya. Tapi tidak ada. Ruangan yg tercium paling
wangi, tempat tidur suami dan tempat yg biasa ia gunakan bekerja.
Beberapa waktu kemudian, dalam tidur, saya bermimpi bersalaman dengan dia. Saya cium
tangannya. Saat itu dia mendoakan saya: “Zawadakillahu taqwa waghafara dzanbaki, wa
yassara laki haitsu ma kunti” (Semoga Allah menambah ketakwaan padamu, mengampuni
dosamu, dan mempermudah segala urusanmu di manasaja). Sambil menangis, saya balas
doa itu dengan doa serupa.
Semasa suami masih hidup, doa itu memang biasa kami ucapkan ketika kami akan
berpisah. Saya biasa mencium tangan suami bila ia ingin keluar rumah. Ketika kami
saling mengingatkan, kami juga saling mendoakan.
Banyak doa-doa yang diajarkan suami saya. Ketika saya sakit, suami saya menulis doa
di white board. Sampai sekarang saya selalu baca doa itu. Anak saya juga hafal. Saya
banyak belajar darinya. Dia guru saya yang paling baik. Dia juga bisa menjelaskan
bagaimana indahnya syurga. Bagaimana indahnya syahid.
Waktu saya wisuda, 13 Januari 1996 saya sempat bertanya pada suami, “Mas nanti saya
kerja di mana?” Suami diam sejenak. Akhirnya suami saya mengatakan supaya wanita itu
memelihara jati diri. Saya bertanya, “Maksudnya apa?”, “Beribadah, bekerja membantu
suaminya, dan bermasyarakat”. Saya berpikir bahwa saya harus mengurus rumah tangga
dengan baik. Tidak usah memikir! kan pekerjaan. Sekarang, setiap bulan saya hidup
dari pensiun pegawai negeri suami. Meskipun sedikit, tapi saya merasa cukup. Dan
rejeki dari ALLAH tetap saja mengalir. ALLAH memang memberi rejeki pd siapa saja,
dan tidak tergantung kepada siapa saja. Katakanlah meski suami saya tidak ada,tapi
rejeki ALLAH itu tidak akan pernah habis.
Insya ALLAH saya optimis dengan anak2 saya. Saya ingat sabda Nabi : “Aku dan
pengasuh anak yatim seperti ini”, sambil mendekatkan kedua buah jari tangannya. Saya
bukan pengasuh anak yatim, tapi ibunya anak yatim. Meski masih kecil-kecil, saya
sudah merasakan kedewasaan mereka. Kondisi yang mereka alami, membuat mereka lebih
cepat mengerti tentang kematian, neraka, syurga bahkan tentang syahid. Rezeki yg
saya terima, tak mustahil lantaran keberkahan mereka.

Sabtu, 07 Januari 2012

Belajar dari Mujahidah Senja

12 May 2006 at 5:38 pm | Posted in Artikel Islami | Leave a comment
Belajar dari Mujahidah SenjaOleh: Miftahul Jannah
4 Mei 2006 06:06 WIB

Jika gelap datang tiba-tiba
Ketika kita telah begitu terbiasa dengan cahaya terang-benderang
Sebijak apakah kita menyikapinya?

Saya sebenarnya tidak terlalu mengenalnya dengan baik, ya… tidak sebelum dia benar-benar menginspirasi saya. Dia adalah kakak angkatan saya. Tidak banyak aktivitas bersama yang pernah kami kerjakan. Sekedar bahwa kami sama-sama kuliah di satu universitas, satu fakultas, satu jurusan, dan melibatkan diri di sebuah komunitas muslim fakultas, namun juga di bidang yang berbeda.
Sampai suatu hari saya dikejutkan dengan berita bahwa beliau mengalami sakit yang berefek terhadap penglihatannya. Di hari yang sama ketika saya mendengar berita seorang adik angkatan meninggal dunia, juga teman seangkatan saya yang mengalami kecelakaan yang menyebabkan patah tulang kaki dan tangannya. Ya Allah, saya patut bersyukur dengan kecelakaan kecil yang saya alami sore harinya karena emosi saya benar-benar teraduk-aduk dengan berita-berita duka yang saya dengar sepanjang pagi hingga siang hari itu.
Sayangnya, itupun tidak membuat saya menyegerakan diri silaturrahim ke kediamannya untuk menjenguk atau sekedar menghiburnya. Yah, terlalu banyak alasan-alasan tak bermutu untuk diungkapkan jika ditanya mengapa. Hingga suatu hari saya melihat keramaian di taman fakultas, ada seseorang yang sedang dikelilingi di sana. Saya mendekat, ingin tahu siapa orang yang dikelilingi. ternyata beliau, kakak angkatan saya itu. Subhanallah, ia tandai saya dengan suara tawa saya. Ketika itu saya berjanji untuk membacakannya sesuatu, karena dibacakan sesuatu (buku, majalah, atau buletin) telah menjadi aktivitas barunya pasca tidak lagi bisa melihat.
Namun lagi-lagi saya belum bisa menepati janji, hingga dua hari lalu saya berkesempatan melewati sore yang berbalur hujan dengannya. Saya bersyukur sore itu mengurungkan niat untuk kembali ke kos dan memilih mendekam sementara di sekretariat SKI. Ketika saya masuk ke sekretariat ternyata ada beliau di sana, duduk di sudut sekretariat. Posisi yang aman baginya. Canda-canda ringan tak lepas dari bibir beliau. Kepada seorang rekan beliau minta dibacakan edisi terbaru buletin mingguan SKI kami yang terbit hari itu. “Saya tak pernah melewatkan Embun”, katanya pada saya. Setelah rekan saya selesai membacakan Embun, saya minta izin membacakan dua buah tulisan untuknya, teringat janji yang belum saya tepati. Tulisan yang saya baca bukan hanya sekedar didengar, beliau senantiasa melontarkan sekedar komentar bahkan menganalisis jika pernyataan tulisan yang saya bacakan menarik begi beliau untuk dianalisis.
Tepat ketika saya selesai membacakan tulisan kedua, azan Ashar berkumandang. Saya mengajaknya berangkat shalat. Perjuangan beliau berjalan dari posisi duduknya menuju musholla, memakai sendal, mengambil wudhu, memperbaiki jilbabnya, memakai peralatan shalat, memosisikan diri untuk shalat, melipat kembali alat shalatnya setelah selesai shalat, berjalan kembali ke sekretarian SKI, sungguh menjadi pelajaran tersendiri bagi saya. Tak ada keluhan, bahkan beberapa kali beliau menolak untuk saya tuntun, sebisa mungkin beliau usahakan untuk mengerjakannya sendiri. Misalnya ketika saya hendak membantunya memperbaiki jilbab sehabis wudhu, awalnya ia menolak, meski kemudian ia izinkan saya membantunya karena baginya jilbabnya terasa tetap belum rapi.
“Di rumah kalau pakai jilbab dipakaikan siapa, Mbak?” tanya saya.
“Pakai sendiri dong” jawabnya tetap dengan senyum.
Begitupun ketika saya berusaha menuntunnya berjalan, ia menolak. “Nggak usah dipegangin, sendiri bisa kok” Ia lepaskan tangannya dari tangan saya dan berjalan sendirian, meski harus menyeret tapak kakinya untuk meraba undakan, bahkan tersandung sapu berkali-kali.
Selepas Ashar saya tak kuasa menepis keinginan untuk bertanya padanya, keinginan yang sejak lama saya urungkan karena khawatir pertanyaan saya akan menyakiti hatinya. Pertanyaan klise, pasti sudah banyak yang menanyakan, dan saya tak berani memastikan ia mau bercerita. Bisa jadi ia sudah bosan dengan pertanyaan itu-itu saja. Namun betapa stabilnya keadaannya dalam pandangan saya, membuat saya benar-benar ingin mengambil hikmah darinya. Siapakah yang siap mengalami kebutaan setelah hidup lebih dari dua puluh tahun dengan penglihatan normal?
“Saya juga manusia, sejak pagi sampai siang saya menangis. Wajar kan?”
Itulah jawabannya ketika saya tanya reaksi pertamanya begitu mengetahui bahwa ia telah benar-benar tidak bisa melihat. “Waktu itu saya baru bangun. Saya tanya ibu kenapa gelap semua. Beberapa waktu sebelumnya pernah terjadi hal yang sama, ternyata lampu kamar memang dimatikan. Tapi kini karena mata saya benar-benar tidak bisa melihat lagi.”
“Tapi kemudian saya saya sadar, tidak ada yang sia-sia dari semua ini, Allah ambil penglihatan saya karena Allah ingin menutup satu pintu zina untuk saya.” Subhanallah, itulah dia. Jawaban itu adalah kunci utama bagi reaksi-reaksinya yang menyusul kemudian atas apa yang ia alami. “Saya memang kehilangan satu, tapi saya dapat lebih banyak. Memori saya jadi lebih kuat, pendengaran saya jadi lebih tajam, hati saya jadi lebih peka.”
Sungguh benar, bukan apanya dari ujian yang dialaminya yang menjadi pemikiran tapi bagaimana ia menyikapi ujian itu yang memesona saya. “Optimis”, kata itulah yang saat ini ia patrikan dalam dirinya.
“Jika ALLAH mencintai seorang hamba, Dia mengujinya. Jika ia bersabar, maka ALLAH memilihnya, dan jika ia rela, maka ALLAH mengutamakannya di sisi-Nya.” (Al-Hadits)

Rahasia menikmati amal sholih

6 June 2006 at 9:12 am | Posted in Artikel Islami | Leave a comment
 
Rahasia menikmati amal sholih
1.        Jangan pernah sekalipun meninggalkan semua amal sholih terlebih yang wajib
Karena susah untuk memulai lagi ketika sudah meninggalkan
2.        Menggali & mencari ilmu keutamaan amal sholih
3.        Jangan menunda atau berfikir lagi untuk melakukan amal sholih
4.        Lakukan dengan cara benar/syar’i, hiasi dengan adab yang indah, lengkapi dengan kenyamanan fisik
5.        Lakukan secara kolektif sebagai penguatnya

Parameter ukuran cinta Allah
1.        Dari ibnu qayim :
Jika engkau ingin mengetahui cinta Allah padamu dan cinta orang lain lihatlah cintamu pada kalam Allah (cinta pada ayat-ayat Allah)
2.        Kenikmatan kekhusukanmu saat mendengarkan lantunan firman-firman Allah (Ayat-ayat Al-Qur’an, Adzan, dll)

“BUKAN SEKEDAR WANITA BIASA”

5 July 2006 at 9:24 am | Posted in Artikel Islami
http://ratna.wordpress.com/category/artikel-islami/

“De’..cariin pendamping buat kakak yaa ?? Mas Rizal udah siap nikah nih !!”, begitu tulis e-mail Mas Rizal, kakakku yang kerja di Batam kepadaku, singkat dan jelas..tapi susah !!
Sebab, aku akhir-akhir ini ngerasa jengah banget dengan kriteria macem-macem dari kakakku. Susah juga punya kakak yang bujang lapuk banget seperti dia..abis usianya sudah bisa dikategorikan tua banget, 27 tahun. Memang, menurut dia belum tua banget, abis temen-temen kakak di Batam, sama juga seperti kakak, belum ada yang nikah di usia segitu..bujang lapuk, gitu aku menyebutnya.
Padahal banyak wanita, banyak akhwat yang siap menikah dan tak urung sering mendekatiku agar dikenalkan dengan kakakku. Apalagi didukung postur tubuh dan wajah imut kakakku, yang orang lain takkan menyangka bahwa usia kakakku sudah 27 tahun, kelihatannya sih masih 20 tahunan gitu… Aku sebenarnya mau sih nyariin Kakakku, tapi..dengan kriteria seabreg yang disodorkan kakak padaku, aku jadi nggak tega nyariin buatnya. Pernah kutanya kriteria minimalnya..”Mas, ada kriteria minimalnya nggak ??, coba kusentil dengan pertanyaan seperti itu..
Jawabnya, “Minimal mirip De’ Rani aja ya ?? Tapi sepuluh kriteria yang Mas Rizal sebutin tempo hari.. minimal harus ada !! Udah yaa..Mas banyak kerjaan nih, kalo bisa dalam satu – dua bulan ini Mas Rizal nggak nelfon-nelfon lagi, dan lebaran nanti pas Mas Rizal pulang, harus ada !!”, nada perintah kakakku terdengar mantap dan jelas, aku sampe terlongong didepan telpon. Tak sadar bahwa Mas Rizal sudah menutup telpon dan mengucapkan salam.
Kubaca lagi kriteria Mas Rizal dalam e-mail yang dikirimkan padaku dua bulan yang lalu. Aku bermaksud akan mencetak e-mail mas Rizal yang panjang tentang “Sepuluh kriteria Mas Rizal itu, diantaranya adalah : Agama dan akhlaknya bagus, Menguasai Fiqh Islam, Bisa sedikit bahasa Arab (minimal Bahasa Arab Pasif, untuk memahami Al Qur’an ) ; Berjilbab ; Sabar ; Cerdas / Smart ; Harus bisa masak, terutama makanan thoyyib dan halal, minimal makanan kesukaan kakak, Sayur Sop ; Mukanya selalu ceria dan bersinar cerah ; Putih ; Tinggi ; Langsing ; dan Menguasai Teknologi (Komputer / Internet), Psikologi, Manajemen. Trus kriteria lain : Kalo bisa matanya bening, dan jernih ; punya lesung pipit yang manis ; pipinya merah delima ; bibirnya merekah ; tubuhnya bersih (tak ada cela) ; bau badannya selalu wangi ; lehernya berjenjang ; mandiri (bisa menghasilkan uang sendiri) ; jari-jemarinya lentik ; dan bisa naek sepeda (sebab di Batam, kemana-mana musti naek sepeda !!) .. entar kalo ada yang kurang, Mas Rizal telfon ade’ lagi deh, ok ? Teman-teman ade’ khan banyak, cariin ya??” Aduuhh..aku sibuk mencari siapa yaa yang cocok untuk Mas Rizal dari kesemua teman wanitaku. Aku lelah, capek.. tanya ke Ustadzah dengan kriteria seabreg gitu..malu banget rasanya.. Mana ada wanita sesempurna seperti pilihannya.
Sepatah kalimat muncul di nokia mungilku, “De’, jangan patah semangat yaa..cariin yang terbaik untuk Mas Rizal !!”. Mas Rizal, lagi-lagi dengan sikapnya yang misterius terus mendesakku.. apakah mas Rizal bener-bener siap dengan segala kriteria yang diajukannya ?? Aku sungguh tak mengerti !! Lekas kubalas SMS singkat pula, “Mas Rizal, kalo bisa minta tolong Ustadz – ustadz Mas Rizal sendiri di Batam, yaa..?? Jangan tunggu calon dari ade’..SUSAH !!”. Terus terang, kadang aku minder banget dengan kriteria mas Rizal yang bejibun banyaknya, aku saja tak memenuhi kriterianya. Pusiiiingg !!! Ya Robb, tunjukkan hidayah bagi mas Rizal !! Itu calon Mas Rizal, kakakku satu-satunya, bagaimana juga dengan calon para Ikhwan di luar sana ?? Deuuy..tahu begini aku tak menyuruh Mas Rizal cepat-cepat nikah !! Anganku melayang kemana-mana, sebab memang aku yang mendesak Mas Rizal nikah, karena usiaku yang tak terpaut jauh darinya pun ingin segera menggenapkan setengah Dien juga. Tapi dengan permintaan Mas Rizal dan harus secepat ini ?? Tak tahulah aku !! Malam ba’da Qiyamul Lail, aku sengaja menyeleksi beberapa orang wanita atau akhwat kenalanku yang sekiranya memenuhi persyaratan ideal Mas Rizal yang kesepuluh. Pertama Si Fitri, “Semuanya cocok, tapi..ups.. dia agak tulalit orangnya, dan satu lagi ia suka latah kalo kaget, aku menggumam sendirian. Si Wati, Nita, Via, Risa..Ahh… capek.. tak ada yang memenuhi syarat kesepuluh dari Mas !! *******************************************
“Tiiiiiiiiiiiiiiiitttttttt…”, terkaget aku mendengar suara jam beker memekakkan telingaku..sudah hampir subuh.. Ahh, aku ketiduran semaleman ditemani biodata teman-temanku. Bersijingkat aku dari tempat tidur, segera mengambil air wudlu.. “Alhamdulillah..”, segar pagi itu terasa sangat menyejukkan hatiku. Hampir jam tujuh pagi, sebelum menyiapkan diri untuk berangkat mengajar di sebuah SMU, aku mencari-cari catatan kriteria Mas Rizal yang kemarin sudah kucetak. Kurang sebulan lagi sudah lebaran, aku harus berusaha keras mencari data akhwat ke teman-temanku yang lain, rencanaku sepulang dari mengajar nanti. Kusimpan baik-baik alamat beberapa teman SMU, teman kuliahku dulu, agar nanti tak kerepotan aku mencari sendiri. Aku akan minta tolong mereka juga. Ikhtiarku..
“Kring..kring..”, telfon di dekatku langsung kusambar, “Assalammu’alaikum..”, terdengar sahut salam di seberang sana, “Ini De’Rani, yaa ?? De’..ini Mas Rizal.. gimana khabarnya ?? ‘Afwan, Mas Rizal sengaja telfon pagi-pagi gini. Tadi ada acara di rumah Ustadz Mas Rizal, jadi sekalian Mas Rizal telfon ade’, pengen tahu perkembangan pencarian buat mas Rizal, yang memenuhi kriteria ada nggak ?”, intonasi suara Mas Rizal terdengar mantap dan agak riang. “Belum Mas !! ‘Afwan yaa..Ade’ ndak punya temen seperti kriteria Mas Rizal !!”, suaraku mantap. “Ya udah deh, nggak usah repot-repot..Mas Rizal nggak mau ngerepotin ade’ !”.
“Bener nih ?? Ntar ade’ nggak jadi nikah dong Mas ?? Sebab, Ibunda bilang kalo Ade’ pengen nikah, musti nunggu Mas Rizal nikah dulu, lagipula ade’ nggak mau duluan dari Mas Rizal nikahnya ??”, aku mencoba beri pengertian pada Mas Rizal. Sebab Ibundaku mulai khawatir aku menjadi perawan tua, nggak laku kawin gara-gara nunggu mas Rizal nikah.
“De’, makanya ade’ nggak usah repot-repot nyeleksi akhwat untuk Mas Rizal. Insya Allah, ada khabar baik dari Ustadz Mas Rizal….”. terdiam lama mas Rizal. “Halo..mas Rizal masih disitu ?? Khabar baik apaan mas ??”, ucapku bersemangat.
“Insya Allah, permata dunia seperti kriteria Mas Rizal sudah tersedia. Dan tadi Mas Rizal udah ta’aruf dengan akhwat itu, jadi ..Mas minta Ade’ kasih tahu sama Ibunda dan Ayah, kalo dalam waktu dekat Mas mau mengkhitbah akhwat pilihan Mas Rizal, sekaligus mohon restu, agar pernikahan Mas Rizal akan diadakan secepatnya di Batam – rumah akhwat calon Mas, kalo di Jakarta, rumah kita, Mas Rizal mau aja, tapi bilang ama Keluarga, Mas Rizal mau secara sederhana saja, sebab waktu cuti kerja buat Mas Rizal cuma seminggu. Kalo Ade’ dan keluarga pengen ikut ke Batam, biayanya Mas Rizal transfer aja ke rekening ade’ dalam waktu dekat.. kasih tahu Mas Rizal yaa..?? gimana ??”.
Aku hanya bisa terpana mendengar tuturan panjang Mas Rizal, jadi..jodoh Mas Rizal sudah ada ?? “Subhanallah.. Barakallah.. Alhamdulillah, ade’ nggak repot-repot nyariin buat Mas Rizal. Mungkin, cuma Ibu ama Bapak, dan Ade’ aja yang ikut, yaa ? Keluarga besar kita ndak ikut ke Batam ?? Trus kesana pake’ uang ade’ dulu aja, entar kalo mas Rizal abis nikah, mas Rizal ganti yaa ??”, ucapku merajuk
“Ya, udah dech De’..By The Way..kriteria Abang yang kemaren itu, semuanya sudah dimiliki oleh Akhwat, calon istri pilihan Abang. Mas Rizal harap Ade’ dan keluarga nggak kaget yaa entar kalo melihat akhwat tersebut !! Ok ?? Eh, udah dulu yaa.. pulsanya jalan terus nih, entar keburu abis pulsa HP Mas Rizal..udah yaa ? Wassalammu’alaykum Wr.Wb”.
Kuletakkan gagang telfon setelah mengucapkan salam. Khabar baik dari Mas Rizal telah menemukan apa yang selama ini dicarinya, akhwat pilihan Mas Rizal, entah sempurna seperti apakah pilihan Mas Rizal, kriteria yang bejibun banyaknya yang membuatku minder, mudah-mudahan wanita, akhwat pilihan mas Rizal memang paket special dari Allah untuk mas Rizalku yang cakepnya juga diatas rata-rata..
Sujud Syukur segera kutunaikan, karena tak perlu hari ini aku berpayah-payah mencari ke beberapa temanku untuk mencari wanita spesial buat mas Rizal, karena toh akhwat itu ternyata tak jauh dari tempat Mas Rizal bekerja di Batam. **************************************
Rombongan Mas Rizal, aku, kedua orangtuaku, dan Ustadz Mas Rizal serta beberapa dari teman ikhwan Mas Rizal mendampingi Mas Rizal di hari resepsi pernikahan yang lumayan sederhana. Aku dan pihak keluarga masih belum dikenalkan oleh calon Istri Mas Rizal. Mas Rizal belum mengijinkan, sebab itu surprais dan kejutan manis buat kami sekeluarga.
Aku masih berada di belakang mas Rizal, ketika akad nikah berlangsung, akhwat-calon istri Mas Rizal masih di dalam kamar pengantinnya. Setelah resmi akad nikah dilakukan dan kedua calon mempelai dipertemukan serta melakukan sholat sunnah. Tibalah aku dipertemukan dengan istri Mas Rizal yang ternyata.. Subhanallah..Allahu akbar..
Berdegup jantungku, melihat Mas Rizal memanggilku dan kedua orangtuaku…”De’, sini deket ama Mas Rizal, sama Ibu dan Bapak yaa..Mas Rizal mau kenalin nih ama Istri Mas tercinta”, ucap Mas Rizal sambil berkedip kearah istrinya yang saat itu menggunakan gaun putih pengantin, sementara Mas Rizal mengenakan jas, serasi dengan gaun istrinya.
“Mbak Izzah. De’ Rani..udah kenal ama Mbak khan di Jakarta ??”, suara lembut wanita itu singgah ke otakku. Allahu Robbi..Aku tak percaya melihat sosok wanita dihadapanku..sosok akhwat mulia yang menjadi pendamping Mas Rizal..Allahu Akbar..kiranya inilah bidadari sempurna yang diberikan Allah pada Mas Rizal di dunia, dan lidahku kelu tak bisa berkata apa-apa untuk mengungkapkan semua yang muncul sekilas dihatiku dan ingin segera kukatakan pada Mas Rizal. Tiba-tiba..dari sudut mataku, aku menangis terharu.. bahkan kedua orang tuaku pun demikian, tak percaya dengan wanita pilihan Mas Rizal..yang bukan hanya sempurna, tapi memang bukan sekedar wanita biasa.. Kami telah mengenal wanita itu sejak lama.. Subhanallah.. ****************************************
Yup..Wanita atau Akhwat Spesial pilihan Mas Rizal, adalah seorang Janda (istri dari salah satu ikhwan yang telah meninggal dalam usahanya berdakwah di Ambon, menegakkan Ad Dien), usianya pun sudah hampir 32 tahun, anak Beliau sudah empat, mirip ketika Nabi SAW menikahi Ibunda Khadijah r.a..yang hingga akhir hayatnya setia mendampingi Rasulullah SAW.
Alhamdulillah..agaknya kedua orangtuaku pun setuju dengan pilihan Mas Rizal, karena sejak dulu Ibundaku sangat menghormati Mbak Izzah Syifana, istri Mas Rizal, bahkan ingin segera menjodohkan Mas Rizal dengan Beliau meski statusnya sudah menjanda. Tetapi Mbak Izzah terlanjur pindah mengikuti kehendak kakaknya yang Ustadz juga di Batam. Tak tahunya..jodoh memang tak kemana, di Batam pula akhirnya Beliau dipertemukan dengan Mas Rizal, Kakakku tercinta. Baru aku tahu, kenapa banyak kriteria yang Mas Rizal ajukan, sebab Mas Rizal memang orang yang spesial, sehingga berbesar hati dan berlapang dada menerima akhwat yang terlampau lebih spesial dari kriteria Mas Rizal sendiri !! Semoga Barakah dan limpahan rahmat senantiasa menyertainya..Amin. Dalam e-mail Mas Rizal, dua bulan sejak resepsi sederhana diJakarta, rumah kami sekeluarga, Mas Rizal baru menerangkan kenapa banyak sekali kriteria yang diajukan Mas Rizal kepadaku, sebab hampir-hampir saat ini memang tak ada akhwat sejenis itu di Jakarta, kecuali akhwat produk jaman kuliah Mas Rizal, yang memang aku mengakui sangat bagus ghirah atau semangatnya dalam berdakwah.
Teman-temanku yang pernah memendam hati pada Mas Rizal serentak ‘agak’ kecewa, setelah kusampaikan kabar terbaik tentang pernikahan Mas Rizal, karena Mas Rizal perfect banget orangnya.
Lantas, Mas Rizal menuturkan kembali, tentang kriterianya satu persatu : “De’ Rani, tahu ngga’ kenapa harus banyak kriteria untuk istri Mas ? Mas Rizal ingin ade’ seperti Mbak Izzah, istri Ms untuk meningkatkan kualitas pribadi ade’, diantarannya ialah : Agama dan akhlak ade’ musti bagus, Menguasai Fiqh Islam, Bisa sedikit bahasa Arab (minimal Bahasa Arab Pasif, untuk memahami Al Qur’an) : Mas Rizal pun hingga kini belajar capai semua dengan susah payah, sampai menunda nikah di usia yang ke-27, sebab lelaki yang jadi Qowwam / pemimpin dalam keluarganya dan ketika di rumah, sang Istri wajib kiranya mengajari hafalan Qur’an pada jundi – jundiyahnya..
Berjilbab : karena ia sering membersihkan / mengeramasi *RAMBUT*nya dengan *JILBAB* yang akan menghilangkan *KETOMBE* dari pandangan lelaki yang belum tentu menjadi *JODOH* nya ! Sudah jelas khan De’ kriteria seperti ini ?? Yang pasti Akhwat dong De’..:).. Istri Mas musti Sabar dan tahan bantingan : he..he.. maksud Mas Rizal, sabar saat suka dan duka .. mendampingi Mas Rizal yang kurang sabar..he.. he.. ketahuan yaa De’..tapi hingga saat ini, Mas Rizal belajar sabar dari..Mbak Izzah !
Cerdas / Smart : Ini perlu, untuk kelanjutan visi dakwah Mas Rizal, menegakkan Islam di Bumi Allah dan bisa mengambil kebijakan ketika Mas Rizal mengalami kesulitan..Amin..
Harus bisa masak, terutama makanan yang thoyyib dan halal, minimal makanan kesukaan kakak, Sayur Sop : Ups..yang satu ini musti De’, tapi jangan diketawain yaa, sebab apa gunanya bisa masak doang, tapi nggak taunya ada yang haram dalam bumbu atau gak bergizi tuk perkembangan jundinya kelak..:).. Mukanya selalu ceria dan bersinar cerah : Maksud Abang, Akhwat tersebut harus selalu berhias dan pake’ bedak di *WAJAH*nya dengan *AIR WUDLU*, niscaya akan bercahaya diakhirat, dan menyejukkan pandangan Abang, ketika melihat muka Beliau sepulang Abang dari kerja..
Putih : Seputih ruhani dan hatinya akibat sering Sholat Sunnah di malam hari, hingga hatinya senantiasa bebas dari penyakit hati, seperti dengki, iri, hasutan, dan lainnya, ade’ pasti tahu mengenai hal ini..
Tinggi : Sebab ia selalu memasang *SEPATU JIHAD* pada *KEDUA KAKI*nya untuk menegakkan Kebenaran dan Keadilan di bumi ?, bukan untuk membuatnya Tinggi hati / sombong !!
Langsing : dengan tubuhnya yang langsing ia mampu QANAAH dalam mengarungi bahtera rumah tangga kami kelak, ini diperlukan, agar ia mampu Zuhud, berkecukupan dengan ma’isyah atau penghasilan dari Mas, baik sedikit maupun banyak, sehingga dan satu lagi..ia biasa Shoum / Puasa sunnah..Alhamdulillah, yang pasti ade’ juga donk !!
Menguasai Teknologi (Komputer / Internet), Psikologi, Manajemen : Untuk mendidik jundi-jundiyah Mas Rizal kelak, agar mampu berkiprah di tengah masyarakat dan mengahadapi tantangan jaman..
Kalo bisa matanya bening, dan jernih : Akhwat tersebut mampu menjadikan *GHADDUL BASHOR* (Menundukkan Pandangan) sebagai *HIASAN KEDUA MATA*nya, niscaya makin bening dan jernih.
Punya lesung pipit yang manis : sebab ia selalu merawat *LESUNG PIPIT*nya dengan *MASKER SENYUMAN*, niscaya dihadapan Mas Rizal senyum-nya akan semakin berseri-seri menawan hati..ehm
Pipinya berwarna merah delima : Ia harus menggunakan *PEMERAH PIPI* pada pipinya dengan Kosmetika *RASA MALU* yang dijual di *SALON IMAN*, agar ia terlihat anggun di depan Mas Rizal..
Bibirnya merekah : karena setiap berhias, ia senantiasa mengoleskan *LIPSTIK KEJUJURAN* pada *BIBIR* nya, niscaya akan semakin indah. Tubuhnya bersih (tak ada cela) => sebab ia senantiasa membaluti *TUBUH*nya dengan *PAKAIAN TAQWA*, niscaya ia makin bersahaja, begitu juga dengan telinganya yang selalu dipakaikan *GIWANG MUSTAMI’ (PENDENGAR)*, agar selalu taat dan patuh kepada ? dan Rasul-Nya, serta nurut pada suami tentunya..yaa De’ ??
Bau badannya selalu wangi : sebab ia selalu memakai *SABUN ISTIGHFAR* untuk meng-hilangkan semua dosa dan kesalahan yang ia lakukan. Lehernya berjenjang : Tak lupa ia selalu mengenakan *KALUNG ‘IFFAH (KESUCIAN)* di*LEHER* jenjangnya, niscaya akan semakin berkilauan. Jari-jemarinya lentik : karena ia menghiasi *KEDUA TANGAN*nya dengan *GELANG TAWADHU’ (RENDAH HATI)*, niscaya orang akan kagum padanya dan memberi *JARI-JARI LENTIK*nya dengan *CINCIN UKHUWAH Islamiyah* (persaudaraan di Jalan Allah – ?), niscaya ia makin disayang banyak orang, terutama Mas Rizal..:)..
Mandiri (bisa menghasilkan uang sendiri) : agar ketika Mas Rizal di PHK atau nggak kerja lagi atau berangkat Jihad atau Dakwah, Beliau – Istri Abang mampu memberi asap untuk dapurnya.. Lagi pula, Mas Rizal rencananya pengen Poligami..ups.. of the record deh ! Tunggu Bulan Madu yang belum selesai..dan nunggu Mas Rizal punya rumah mewah, mobil de el el..eh mungkin ndak yaa De’ ?? J
Dan bisa naek sepeda : yang ini nih belajar tirakat juga, abis kalo di Batam, kemana-mana musti naek sepeda, Mas Rizal kan belum bisa beli Motor / Mobil sendiri !! Biaya hidup di Batam mahal..dua kali lipat di Jakarta De’..jadi musti hemat !! Di Akhir e-mailnya yang terlampau panjang, Mas Rizal menuliskan kata-kata : “Kalo kita berkualitas dan spesial di hadapan Allah, niscaya jodoh yang akan datang kepada kita pun demikian seperti halnya kita”. ***************************************
EPILOG : Allahu Akbar..begitu panjang penjelasan kriteria Abang, yang aku sendiri belum bisa mencapainya hingga saat ini.., aku tak tahu sejak kapan mas Rizal memperoleh kriteria yang Subhanallah, tak sanggup aku menjadi wanita sempurna seperti makna yang ada didalamnya, tapi aku tetap bertekad untuk belajar membaiki semuanya seperti apa yang diinginkan Mas Rizal..kakakku sayang.
No body’s perfect !! Kini, diusiaku yang ke-24 tahun, saat nikah itupun tiba.dan telah hadir pendamping disisiku.. kriterianya pun tak jauh seperti Mas Rizal..Beliau seusia Mas Rizal, 27 tahun.
Beliau tidak seperti kebanyakan lelaki biasa, bukan sekedar ikhwan biasa, Beliau teramat spesial yang dihadirkan Allah untukku. Namanya Bang Arif, begitu aku memanggilnya.. Bang Arif sudah beristri.. dan aku sudah mempercayakan biduk rumah tanggaku padanya.. tuk bersedia Poligami.. Selama ini hubunganku dengan mbak Aisyah, istri Bang Arif pun baik-baik saja, dan hingga kini pun ada perasaan rughbah (kesenangan) diantara kami berdua. Dari beliau, Mbak Aisyah juga aku bisa belajar menjadi wanita sholehah idaman ikhwan..eh maksudku ..idaman Insan !! Karena dari tangan-tangan wanita Sholehah akan terlahir mujahid-mujahidah dakwah baru yang akan menegakkan Islam di Bumi Allah..
Disamping itu, kami..Aku, Mbak Aisyah dan Bang Arif tak pernah henti untuk saling memotivasi.. Allahu Akbar..!!

Menghidupkan Hati

Menghidupkan Hati