Selayang Pandang

Blog ini berisi tulisan-tulisan perjuangan seorang anak manusia demi menggapai impiannya. Berbagai hikmah yang Ia temukan terangkum dalam barisan huruf-huruf menjadi sebuah kata demi kata dalam kalimat-kalimat yang berkembang menjadi paragraf-paragraf panjang...

Senin, 05 Maret 2012

Ibu...

Bu... sungguh sangat2 berat untuk ku melakukan semua ini. hal terberat dalam hidupku adalah melihatmu menitikkan air mata. meskipun air mata haru bahagia. pliiss.. don't cry mom...

"Bu, telah datang padaku seorang ikhwan yang berniat meminangku dan 'mengambil gadismu dari pangkuanmu'." Beraaaat sekali mulut ini mengatakannya, padahal ku yakin jawabanmu pasti tak kan pernah berubah. "Ibu ikut saja jika itu keputusanmu. Asal itu yang terbaik dan bisa membuatmu bahagia". Tapi ku merasakan ada yang menyayat-nyayat hati ini melihat butiran mutiara menetes dari sudut matamu yang mulai keriput. Sesungguhnya betapapun aku meyakinkanmu bahwa aku akan selalu menjadi gadis kecilmu meski ku telah memiliki pangeran yang siap mendampingiku selamanya, tetaplah air mata itu tetap mengalir. Dan itu sangat menyakitkan buatku.

Sesungguhnya gadis kecilmu yang dulu selalu kau belai rambutnya dan kau sisiri lembut helai demi helai, kini telah mencoba menjadi gadis dewasa yang siap mengarungi bahtera rumah tangga. Sama seperti ibu yang menemukan cinta bapak, aku pun menemukan pangeran yang mencintai ku. Aku ingin seperti ibu yang bisa menjadi istri sholihah untuk keluarga, menantu idaman dan menjadi tiang keluarga sekaligus kesatria yang melahirkan dan membesarkan kami anak2mu hingga kami dewasa.

Bu, restuilah niatku ini... seperti engkau merestui anakmu mendapatkan keutamaann menggenapkan sebagian dien ini.... Bu, ridhoilah apa yang telah Allah tetapkan untuk anakmu ini. Aku berjanji tak akan ada yang berubah setelah ku menikah. karena engkaulah kebahagiaanku, senyum dan ridhomu lah yang menentukan ridhoNya pada hidupku.

Kacamata

Ceritanya, saya sedang ta'aruf dengan seorang ikhwan. Dipertanyaannya yang terakhir, dari 20 pertanyaan yang ia tanyakan pada saya, ia menanyakan pada suami murabbi ana_kebetulan tempat ta'arufnya di rumah murabbi ana dan suami.
"Bisakah saya menanyakan pertanyaan poin 5 ini?" sembari menunjukkan daftar pertanyaan kepada suami murabbi ana. lalu suami murabbi ana balik bertanya, "korelasinya apa antum ingin menanyakan ini?". "Ya , untuk memastikan aja, saya penasaran karena beda jadinya dengan yang di proposal" Jawabnya.
Aku dan murabbi bingung,
"Ukhti Rizki coba, bisa dipake kacamatanya?" Pinta suami murabbi ana.
"Kacamata ana sengaja nggak ana bawa." saya menjawab dengan raut muka bingung.
"Mi, coba pinjemin kacamata ke ukhti Rizki". Pinta suami murabbi ana ke murabbi ana.
kita "para ukhti" disitu semakin bingung. "Maksudnya apa?"
"Ini, kata Akhi .... kenapa nggak pake kacamata, sedangkan di foto pake kacamata?" Jelas suami murabbi ana.
Jelas ana bingung, memangnya beda ya antar pake kacamata dan nggak?
"Kasian ukhti Rizki, nanti tertulas silindris ana," kata murabbi ana.
"Begini...." Saya mulai menjelaskan, "Saya memang sedang berusaha mengurangi penggunaan kacamata, karena saya harap dengan begitu mata saya nggak bergantung lagi pada kacamata untuk melihat, syukur2 suatu saat bisa sembuh total mines saya."
"Nah, begitu Akhi... bagaimana, masih penasaran ?" Tanya suami murabbi ana lagi kepada ikhwan yang sedari tadi tak segan2 menghujani saya dengan pertanyaan yang menuntut ketajaman pikiran.
"Hmm...." Jawabnya nampak menyiratkan rasa penasaran yang masih tersisa di benaknya.
"Akhi... tidak ada korelasi yang jelas dari pertanyaan antum dengan kepribadiannya, karena penampilan hanya sekilas, dan antum tidak bisa menilai orang hanya dari poin itu." Jelas suami murabbi ana.

Kemudian hening...

"Ya, kalo sudah tidak ada lagi yang ditanyakan, silahkan.... di nikmati hidangan yang sudah disiapkan istri ana tercinta." kata suami murabbi ana.